
Pada zaman dahulu kala, sekitar tahun 2020, Covid-19 melanda. Ekonomi ambruk, saat perputaran uang melambat. Di berbagai belahan dunia, komunitas-komunitas lokal berusaha menghidupkan kembali hubungan antarsesama, sekaligus geliat ekonomi, lewat aktivitas Barter. Di Amerika Latin (Mexico, Kolombia, Ekuador), di Eropa (Spanyol, Italia, Portugal), kelompok masyarakat bertukar makanan, barang, dan pengetahuan — tanpa keterlibatan uang.
Barter, siapa pun yang belajar ekonomi atau sejarah di sekolah, pasti tahu. Sebelum ada makhluk yang namanya uang, orang-orang bertukar hasil bumi melalui mekanisme ini. Satu karung beras bisa dipertukarkan dengan seikat talas atau ikan. Tapi kemudian orang-orang menemukan masalah dengan barter, dan uang (dalam berbagai bentuknya, dari kerang, emas, sampai selembar kertas) menjadi alternatif penghubung pertukaran ini.
Apa sih masalahnya dengan barter? Pertama, barter mensyaratkan kepercayaan (trust) antara dua orang bertransaksi, bahwa dua barang yang dipertukarkan itu memiliki nilai yang sama. Nilai ini, tentunya, subjektif. Karena itu, kesepakatan dan kepercayaan jadi kunci. Kalau menurut saya, nilai guna 1 kg beras tidak bisa setara dengan 1 ekor ikan, ya, transaksi dibatalkan. Di tengah masyarakat yang semakin kompleks, membangun kepercayaan dan kesepakatan ini tidak mudah.
Masalah kedua adalah apa yang disebut dengan double coincidence of wants. Seberapa besar peluangnya, ada satu orang yang mempunyai beras dan ingin mengonsumsi ikan, bertemu dengan orang yang membutuhkan beras, tapi justru memiliki ikan? Kemungkinannya kecil. Jadi, efektivitas barter jadi masalah dalam kondisi seperti ini.
Uang memungkinkan kita mengatasi dua masalah tadi sekaligus. Prinsip dasar uang adalah bahwa kita semua menyerahkan (atau memindahkan) kepercayaan kita pada nilai uang, sehingga semua barang-barang yang kita ingin tawarkan, kita ukur nilainya berdasarkan nilai uang tersebut. Nilai guna (use value) kini berganti jadi nilai tukar (exchange value). Ini seolah-olah lebih objektif, karena nilai guna akan sangat bergantung pada orang yang menggunakannya. Bagi saya yang kelaparan, beras dan ikan akan sangat berguna (baca: bernilai guna tinggi), tapi tidak bagi kamu yang kekenyangan. Nilai tukar juga tentu saja bisa berubah, tergantung pada permintaan dan penawaran, tapi itu sesuatu yang bisa dipahami dalam mekanisme pasar.
Uang juga dapat disimpan untuk digunakan saat kita memiliki kebutuhan lain di suatu waktu. Alih-alih mencari orang yang menawarkan barang yang kita inginkan saat itu juga, kita bisa simpan hasil penjualan barang yang kita miliki sampai saatnya kita menemukan seseorang yang menawarkan barang yang kita mau tersebut — bisa besok, bisa minggu depan, bisa tahun depan. Uang bisa mengatasi masalah double coincidence of wants tadi.
Tapi kita tahu kalau uang juga menghasilkan banyak masalah. Uang memungkinkan kita mengakumulasi kekayaan yang tidak perlu. Nilai barang (atau tenaga kerja) direduksi menjadi nilai tukar yang bisa jadi tidak sepenuhnya sesuai bagi tiap orang. Karena kelangkaan, suatu barang yang bisa jadi tidak terlalu berguna (seperti tas mahal merek Gucci) bisa memiliki nilai yang sangat tinggi. Sebaliknya, bawang yang dihasilkan oleh petani dengan penuh keringat, atau tenaga kerja di pabrik-pabrik tekstil, bisa jadi dihargai sangat murah karena penawarannya jauh melebihi permintaan. Yang lebih problematis lagi adalah ketika uang itu sendiri langka atau, sebaliknya, tidak bernilai karena terlalu banyak beredar di masyarakat, seperti yang terjadi pada krisis ekonomi Eropa tahun 2012.
Maka kita kembali ke Barter. Satu hal yang harus kita pahami adalah, bahwa Barter bukan semata produk masa lalu. Tidak lagi kita bisa melihat Barter sebagai bentuk ekonomi tradisional yang tidak lagi relevan dengan zaman. Saat krisis moneter terjadi di Indonesia tahun 1998, atau di Eropa tahun 2012, atau Covid19 di penjuru dunia di tahun 2020, orang-orang beralih ke Barter sebagai solusi penguatan ekonomi lokal. Di Indonesia, praktik Barter masih dilakukan di banyak tempat, secara tradisional dicontohkan oleh Pasar Gon di Sarmi, Papua, atau di Waiwuring di NTT (tampilan foto di atas). Di banyak masyarakat desa, bentuk bertukar barang, seperti berbagi hasil panen, juga masih jamak dilakukan. Ini juga sejatinya bentuk Barter.
Saya melihat bahwa Barter masih menjadi solusi yang relevan untuk ekonomi kerakyatan kita. Tapi, Barter juga mensyaratkan beberapa hal. Kalau kita kembali ke masalah yang dihadapi oleh Barter di atas tadi, setidaknya ada beberapa prinsip di mana Barter masih bisa berjalan. Menyelesaikan masalah yang dibawa oleh Barter tidak harus dengan solusi seperti uang. Kita tetap bisa mempraktikkan Barter, apabila hal-hal ini bisa kita penuhi:
- Barter mensyaratkan kita kembali membangun kepercayaan terhadap sesama. Barter tidak bisa diterapkan di dalam masyarakat yang saling tidak mengenal satu sama lain, karena Barter membutuhkan kepercayaan jangka panjang. Sifatnya tidak transaksional semata. Di Sarmi, satu orang bisa menukar seikat sayur (seharga Rp. 10,000, mungkin), dengan setali kepiting yang bernilai Rp. 500.000.-. Kalau ini transaksi sesaat, si pembawa kepiting mungkin dirugikan. Tapi karena yang mereka bangun adalah hubungan jangka panjang, suatu waktu si pembawa kepiting bisa jadi memperoleh manfaat yang lebih besar melalui transaksi berikutnya. Bayangkan Barter sebagai bentuk bertukar hadiah, tapi secara rutin.
- Barter mensyaratkan bahwa kita tetap setia pada nilai guna. Kita perlu saling menyepakati bahwa apa yang saya butuhkan saat ini, setara dengan apa yang saya ingin pertukarkan. Membangun kepercayaan dan kesepakatan itu tidak mudah, dan butuh rasa saling percaya dan saling mengenal satu sama lain. Kalau yang kita cari adalah nilai tukar (misalnya, kita ingin menukar barang agar bisa kita jual), maka proses Barter tidak akan efektif. Ini hanya bisa terjadi di dalam komunitas yang closely knit.
- Barter mensyaratkan kita saling tahu apa yang kita miliki dan butuhkan, dalam jangka panjang. Jadi, proses Barter harus dibangun secara berkala, terbuka (transparan), dan terkomunikasikan dengan baik. Misalnya, kita bisa tahu kalau teman kita punya buku yang sudah selesai dibaca, atau dalam dua bulan ke depan akan memanen sayurnya, demikian juga sebaliknya. Kalau kita tahu kapan Barter akan dilakukan, kita bisa merencanakan pertukaran ini lebih baik. Di Sarmi, Pasar Gon dilakukan tiap. tiga bulan sekali, dan itu menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
- Terakhir, Barter bisa mempertukarkan banyak hal, tidak hanya barang, tapi juga pengetahuan dan keterampilan. Misalnya, saya bisa saja membantu memperbaiki genteng Pak Budhi, dengan ganti Pak Budhi membersihkan kolam di rumah saya. Ini juga bentuk Barter dalam pengertian yang luas. Mungkin kita juga bisa pertukarkan tenaga dan pikiran kita dengan barang tertentu yang kita butuhkan. Yang pasti, tidak ada keterlibatan uang di sini, karena yang kita pertukarkan adalah apa yang kita punya dan kita butuhkan saat itu juga.
Saya yakin, menghidupkan kembali Barter tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, ini sesuatu yang layak dicoba. Bagaimana, mau?