Tulisan ini sempat saya publish beberapa bulan lalu, tapi saya turunkan di tengah kondisi yang tidak menentu. Saya angkat lagi sekarang, semoga bisa menjadi bahan pelajaran bagi semua.

Saya dapat berita duka bulan ini. Suatu kampus (yang saya tidak mau sebut namanya, jadi saya sebut saja the kampus) baru saja mengeluarkan kebijakan resmi terkait larangan memberikan makan kucing di dalam kampus. Sebelumnya, kampus yang dihuni oleh cukup banyak kucing liar (stray) ini ditutup seiring kebijakan kerja-dari-rumah dan ‘lockdown’ kampus. Tidak ada dosen, mahasiswa atau tenaga kependidikan yang bisa masuk ke dalam kampus kecuali orang-orang yang diberi izin. Beberapa masyarakat kampus mulai khawatir: kalau tidak ada yang bisa masuk kampus, siapa yang akan memberi makan kucing? Kekhawatiran ini tidak berkembang di kalangan mahasiswa saja. Beberapa dosen dan staff tenaga kependidikan yang saya temui (secara daring) juga menyampaikan hal serupa. Bahkan, saya dengar dari teman yang bekerja di Klinik Hewan, kalau salah satu pelanggannya curhat soal kekhawatirannya mendengar cerita tentang kucing di kampus tersebut. Awalnya saya bantu jawab, tenang saja, di kampus ini banyak orang-orang yang peduli dengan kucing, dan ada saja cara untuk menitipkan makanan kucing ke satpam atau karyawan yang tugas piket di dalam kampus.

Itu, sampai kabar kebijakan yang saya baca di atas. Pelarangan memberi makan kucing ini terjadi seiring dengan berkembangnya wabah Covid-19, tapi permasalahan antara kampus dengan kucing sudah ada jauh sebelum itu. Momennya pas saja untuk bisa menerapkan larangan ini karena, yaa, sebelumnya, bagaimana bisa kampus melarang lebih dari 10,000 orang – mahasiswa, dosen, tendik, pengunjung – yang hilir mudik keluar masuk kampus untuk memberi makanan kucing atau menyisihkan sisa-sisa makanannya sendiri untuk para kucing? Alasan pelarangan ini mudah dimengerti: kehadiran kucing, apalagi dalam jumlah banyak, dapat mengganggu keindahan, kenyamanan dan berpotensi membawa penyakit. Tidak ada pernyataan resmi bahwa kucing terkait langsung dengan Covid-19, tapi narasi di berbagai WhatsApp Group (WAG) menghubungkan dengan pemberitaan bahwa kucing dan anjing dapat terinfeksi coronavirus. Tolong digarisbawahi, Office International des Epizooties (World Organization of Animal Health), di dalam websitenya[1], mengeluarkan pernyataan bahwa meskipun studi melaporkan bahwa beberapa kucing domestik benar dapat menunjukkan hasil uji positif untuk Covid-19, belum ada bukti ilmiah bahwa kucing dapat menularkan penyakit ini ke manusia (yang terjadi justru sebaliknya, kucing tertular oleh manusia).

Media sosial seperti WAG juga bisa memotret kehororan pemikiran sebagian orang tentang kucing. Pernyataan-pernyataan kecil seperti kucing itu menjijikan, sebaiknya dibiarkan saja kelaparan, atau sebaiknya ditangkap dan dibuang ke pasar, jamak terbaca. Harus diakui, kenyataan bahwa kucing bisa mengganggu lingkungan kerja, menyebarkan kutu, atau mengacak-acak tempat sampah yang seharusnya tertata rapi juga dijumpai. Tidak semua orang juga suka dengan kucing – bahkan ada yang takut dengan mereka. Sebagai sebuah institusi, kampus harus menjamin kenyamanan dan kesehatan dari orang-orang yang bekerja di dalamnya. Singkat kata,kebijakan menyingkirkan kucing memenuhi segala justifikasi logis dan rasional tentang keindahan, keamanan, kesehatan dan kenyamanan lingkungan kerja.

Akan tetapi, saya ingin mencoba menarik ke ranah yang lebih luas: justifikasi filosofis. Hubungan antara manusia dan kucing mencerminkan relasi yang lebih dalam (dan kompleks) tentang manusia dan alam. Pertanyaan filosofis tentang hubungan ini menjadi bahan perdebatan dari berabad silam (mungkin bisa baca ini atau itu). Di dalam buku teks seperti Environmental Science karya David Chiras (yang juga dipakai sebagai salah satu buku teks di the kampus), ditegaskan bahwa penyebab utama kerusakan lingkungan adalah perilaku manusia yang berakar dari cara pandang tertentu terhadap alam: bahwa manusia terpisah dari alam dan berhak untuk mengeksploitasinya, bahwa sumberdaya alam tidak terbatas (frontierism) dan alam dapat memperbaharui dirinya (sehingga tidak ada salahnya mengambil lebih dari alam), bahwa pertumbuhan ekonomi (yang menjadi proxy kesejahteraan masyarakat) ada di atas kesehatan ekosistem, menjadi sugarcoat bagi kerakusan dan keserakahan manusia (disclaimer: ini semua pernyataan di buku di atas ya).

Sekalipun kerusakan lingkungan sudah terjadi sejak perkembangan peradaban, agaknya baru di 300 tahun ke belakang ini kerusakan semakin teramplifikasi melalui Revolusi Industri, dan oleh sebagian pemikir lingkungan ditandai sebagai titik awal era baru di sejarah dunia: era Anthropocene, di mana aktivitas manusia secara signifikan menyebabkan perubahan lingkungan hidup dalam skala besar (termasuk perubahan iklim). Fenomena seperti pencemaran sungai Thames di Inggris, kekeringan panjang yang menyebabkan kelaparan besar di India di abad ke-19, US Dust Bowl di abad ke-20, deforestasi, penurunan keanekaragaman hayati dan kepunahan berbagai satwa kunci, pemanasan global, serta berbagai wabah yang menimpa masyarakat dalam skala luas, tidak bisa dipisahkan dari pembangunan yang begitu pesat ini. Saya ingat kata Dr. Sonny Mumbunan, peneliti senior di World Resource Institute, bahwa di era Anthropocene ini, perubahan lingkungan global jangan dilihat sebagai bencana yang masif dan serentak, tapi ibarat berjalan di ladang penuh ranjau – tidak ada yang bisa menebak apa yang akan kita injak di langkah berikutnya (lebih lanjut tentang ini di tulisan saya yang lain).

Lalu, apa hubungan kerusakan lingkungan dengan para kucing? Dalam hal ini, kita perlu melihat populasi kucing liar yang ‘mengganggu’ sebagai sebuah spillover dari modernitas. Untuk satu hal, modernitas menuntut keindahan dan kenyamanan dalam pandangan yang sempit: manusia bisa hidup berdampingan dengan alam (hewan, tumbuhan, ekosistem alami) selama alam tidak mengganggu manusia (tidak peduli seberapa besar manusia mengganggu alam). Di bukunya ‘Monoculture of the Mind’, Vandana Shiva, seorang pemikir dari India, becerita bagaimana pertanian monokultur berakar dari cara pandang yang ‘monokultur’ – teratur, rapi, seragam. Bayangkan Anda memasuki hutan campuran di daerah tropis yang berantakan dan angker, dibandingkan dengan Kebun Raya yang tertata rapi dan cantik! Apa yang Anda rasakan?

Saya mengakui bahwa tidak ada pembelaan apapun yang bisa mendiskreditkan kenyataan bahwa manusia membutuhkan tempat hidup yang aman, sehat dan nyaman. Akan tetapi, manusia juga perlu mendefinisikan ulang apa yang mereka anggap aman, sehat dan nyaman itu. Di sisi lain, keamanan, kesehatan dan kenyamanan perlu dapat dicapai tanpa mengorbankan pihak lain. Pengusiran kucing dari kampus adalah sebuah gejala tentang paradigma modernitas dan pembangunan yang egoistik. Di skala yang lebih luas, hal ini bisa juga terjadi pada semak belukar, padang rumput atau ekosistem alami yang bersinggungan dengan ‘pembangunan’ manusia – atau bahkan, di kasus ekstrim (tapi nyata), pada sesama manusia. Apa iya kita harus terus menggusur kawasan kumuh saat paradigma pembangunan menganggap kawasan ini tidak sejalan dengan estetika pembangunan modern? Apa iya kita perlu memberantas semua satwa liar karena mereka menjadi sumber penyakit dan berbahaya bagi manusia? Jangan sampai, institusi kita terjebak dalam paradigma sempit ini dan gagal melihat lebih luas dan lebih dalam.

Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapa pun. Saya bangga dan menyayangi the kampus, dan ingin mendorong terus agar kampus ini menjadi inspirasi bagi masyarakat. Tulisan ini juga tidak bermaksud memberikan solusi praktis (untuk menjawab, jadinya harus gimana dong?). Manusia memiliki ingenuitas, kecerdasan, untuk memberikan solusi-solusi teknis dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi dengan keterbatasan yang ada. Tulisan ini, dalam harapan saya, bermaksud membuka sudut pandang yang baru, agar para kucing tidak dilihat sebagai masalah, tapi sebagai faktor pembatas yang di dalamnya solusi-solusi lain dapat diupayakan untuk menjawab masalah yang lebih nyata (jika ada).

Saya belajar banyak dari istri saya (dia bukan saja penyayang kucing, tapi penyayang kehidupan), bahwa kalau ada satu hal yang membedakan manusia dengan para kucing, saya yakinkan bahwa perasaan/afeksi bukanlah itu. Sama dengan manusia, para kucing (dan hewan orde tinggi lainnya) memiliki perasaan – mereka juga bisa takut, sedih, senang, dan punya rasa sayang. Banyak dari kita bisa terhubung dengan perasaan itu. Saya hanya khawatir, apabila kita membiasakan memutus diri dari perasaan-perasaan itu dengan dalih logika, kita akan ‘terlatih’ untuk lebih tumpul dalam menggunakan perasaan yang sama untuk menjadi pendorong keputusan-keputusan lain yang lebih besar lagi. Semoga tidak.

[1] https://www.oie.int/scientific-expertise/specific-information-and-recommendations/questions-and-answers-on-2019novel-coronavirus/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *