Tulisan ini disusun untuk kegiatan Seri Webinar yang akan diselenggarakan oleh MuDa Environmental Care dan EcoDeen.

Pendahuluan

Tulisan ini disusun tepat memasuki minggu ketiga penerapan kebijakan kerja dari rumah (work from home) oleh kantor saya, mengantisipasi penyebaran COVID-19 lebih luas di Indonesia, dan kota Bandung khususnya. Di dalam tiga minggu ini, lini masa di media sosial dipenuhi oleh beragam pemberitaan tentang virus corona dan dampaknya bagi masyarakat – dari penjelasan ilmiah tentang karakteristik virus, upaya-upaya kesehatan masyarakat dalam pencegahan penyebaran, kesenjangan sosial yang makin kentara, hingga ketakutan krisis ekonomi global. Satu dua berita hoax turut mewarnai. Menariknya, sesekali saya bersinggungan juga dengan artikel yang membahas hubungan antara virus corona dan krisis lingkungan hidup. Pembahasannya beragam: virus corona dipicu oleh deforestasi dan kerusakan lingkungan[2], virus corona memicu deforestasi (akibat melemahnya pengawasan hutan)[3], virus corona membantu menurunkan polusi udara[4], lockdown akibat virus corona menyebabkan hidupan liar kembali ke perkotaan[5], tapi virus corona juga mendorong peningkatan limbah disposable[6], dan masih banyak yang lainnya. Di titik ekstrem, ada yang bilang, “mungkin virus corona bukan virus; manusia adalah virus bagi alam dan corona adalah obatnya”. Di sisi lain, virus corona turut menyebabkan kelumpuhan di sektor ekonomi, yang bisa jadi mendorong eksploitasi lebih besar terhadap lingkungan hidup di kemudian hari (baca: virus corona dan deforestasi). Lalu bagaimana sebenarnya keterkaitan antara penyakit, manusia dan lingkungan hidup?

Apapun bentuk analisisnya, umumnya kita menyadari bahwa ada hubungan yang erat antara penyakit dan lingkungan hidup. Kenyataannya, penyebaran virus corona, seperti halnya sumber penyakit lain, adalah fenomena ekologis (lingkungan). Virus, bakteri, kapang dan protozoa adalah bagian dari ekosistem – beberapa berperan sebagai parasit obligat bagi tumbuhan, hewan atau mikroorganisme lain; beberapa dapat hidup bebas di luar organisme lain tapi memperoleh manfaat dari kehadiran organisme tersebut. Karena manusia juga merupakan bagian dari ekosistem, maka tidak bisa dihindari bahwa penyakit merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan manusia. Bisa dibilang bahwa kehidupan tanpa penyakit adalah utopia. Lalu apa yang menyebabkan wabah (epidemi/pandemi) bisa terjadi? Dan bagaimana hubungan antara penyebaran penyakit dan perubahan lingkungan hidup, khususnya di era modern sekarang ini? Tulisan ini memiliki dua tujuan: di satu sisi, saya ingin mengulas bagaimana penyakit berhubungan dengan krisis lingkungan hidup; di sisi lain, saya ingin menelaah bagaimana kedua hal ini (wabah penyakit dan krisis lingkungan hidup) dipersepsi oleh masyarakat modern dalam satu paradigma yang sama: resiko. Berikut ini ulasannya.

Hubungan penyakit dan perubahan lingkungan hidup

Di dalam epidemiologi (studi tentang kesehatan populasi masyarakat), penyakit, khususnya penyakit menular, dilihat di dalam konteks segitiga faktor penyebab: (1) masyarakat (demografi, pengetahuan dan perilaku), (2) sumber penyakit dan (3) lingkungan hidup (termasuk vektor penyakit dan infrastruktur). Setiap perubahan di tiga sumbu segitiga ini dapat berakibat pada naik dan turunnya wabah penyakit di suatu daerah. Sebagai contoh, pola hidup dan perilaku masyarakat yang lebih sehat dapat menurunkan resiko penyebaran demam berdarah di perkotaan. Di sisi lain, perubahan iklim meningkatkan distribusi demam berdarah ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah terjangkiti (seiring meluasnya habitat bagi vektor nyamuk Aedes. Sama halnya, mutasi yang terjadi terhadap mikroba dapat meningkatkan virulensi organisme tersebut atau resistensinya terhadap antibiotik.

Kesadaran akan hubungan timbal balik ini mendasari berbagai studi tentang hubungan antara penyakit dan perubahan lingkungan. Tony McMichael, seorang pakar epidemiologi dari The Australian National University, di dalam artikelnya[7] memaparkan bagaimana interaksi antara manusia, penyakit dan lingkungan hidup telah berlangsung sejak masa pra-sejarah hingga saat ini, di dalam pola-pola yang berubah tapi dalam prinsip dasar yang sama. Di masa pra-sejarah, perubahan lingkungan hidup manusia dari hutan ke padang rumput, misalnya, menyebabkan persentuhan (exposure) baru manusia dengan vektor seperti nyamuk dan kutu, sementara konsumsi daging memungkinkan terjadinya penyakit zoonosis. Meskipun begitu, salah satu periode transisi penting yang mendorong berkembangnya penyakit adalah pertanian dan masyarakat menetap, yang memungkinkan mikroorganisme dari hewan ternak dan hama pemukiman (tikus, lalat, nyamuk, dsb) untuk bermutasi dan menyebabkan penyakit bagi manusia. Sekitar 1500 – 3000 tahun lalu, peradaban besar seperti Romawi, Cina dan Mediterania mengalami epidemi massal, meskipun pada akhirnya populasi menjadi semakin kebal terhadap penyakit-penyakit menular ini.

McMichael mengidentifikasi dua periode transisi lagi yang dicirikan oleh ledakan wabah penyakit menular. Di periode ketiga, penjelajah dan penjajah dari Eropa memperkenalkan penyakit ke daerah-daerah jajahannya. Salah satu yang paling terkenal mungkin adalah kisah Conquistadores dari Spanyol yang (secara tidak sengaja) membawa cacar, campak dan tifus dan menghabisi sebagian besar populasi masyarakat asli Amerika. Melewati masa-masa imperialisme hingga awal abad ke-20, tidak ada wabah besar sampai akhirnya pandemi flu Spanyol terjadi di tahun 1919, dengan kematian mencapai 50 juta jiwa. Setelah Perang Dunia II, teknologi kesehatan semakin mutakhir dan di tahun 1970an, setidaknya di negara-negara maju, penyakit menular telah dinyatakan kalah (meski di saat yang sama penyakit tidak menular akibat gaya hidup mulai meningkat). Akan tetapi, banyak studi[8] menunjukkan bahwa abad ke-21 menjadi penanda munculnya penyakit-penyakit menular baru (emerging infectious diseases). Apa penyebabnya? Menurut McMichael: globalisasi dan industrialisasi, pertumbuhan populasi, urbanisasi, perubahan iklim, dan krisis lingkungan hidup.

Di dalam artikelnya, McMichael mengilustrasikan bagaimana berbagai faktor lingkungan hidup dan sosial memberi peran yang bervariasi di dalam sejarah perkembangan penyakit dari 10.000 tahun yang lalu (lihat Gambar 1). Di masa pra-sejarah, hubungan manusia-hewan dan kondisi sosial yang baru terbangun menjadi pendorong utama kemunculan penyakit. Hal ini berubah di 1000 hingga 200 tahun yang lalu di mana perdagangan internasional, penjajahan dan peperangan menjadi faktor pendorong, sementara di masa sekarang, faktor seperti perkembangan teknologi yang pesat dan perubahan lingkungan hidup memiliki peran yang lebih signifikan. Satu hal yang pasti adalah bahwa perpindahan lintas negara (termasuk aktivitas ekspor impor), perubahan lingkungan dan teknologi menyebabkan laju dan volume penyebaran penyakit meningkat hingga titik yang tidak terbayangkan. Beberapa yang perlu dicatat mencakup wabah kolera di Amerika Serikat dan Salmonella di Finland di 1990an akibat kontaminasi produk ekspor, meningitis yang menyebar ke Asia Selatan melalui ibadah haji di tahun 1987, laju urbanisasi yang cepat yang mendorong munculnya SARS di Hong Kong, West Nile virus di Amerika Serikat dan Meksiko di tahun 1999 akibat persebaran baru nyamuk, hingga kasus pandemi global Corona Virus saat ini.

mcmichael

Gambar 1. Nilai penting relatif pengaruh lingkungan dan sosial di dalam kemunculan penyakit menular (Sumber: McMichael, 2004: 1053)

 

McMichael kemudian mencatat hubungan antara perubahan lingkungan hidup dan kemunculan penyakit. Di tahun 1993, hantavirus menyebar di Amerika Serikat sebagai dampak dari tingginya curah hujan akibat El Nino yang menyebabkan populasi tikus meningkat tajam. Di Amerika Latin di tahun 1960an, deforestasi di hutan Amazon diduga menyebabkan meningkatnya interaksi manusia dan sejenis tikus yang membawa virus Machupo, menyebabkan wabah demam berdarah Bolivia dan menewaskan 1/7 dari populasi lokal. Di Amerika Serikat di tahun 1976, penyakit Lyme mewabah sebagai akibat dari hilangnya predator alami tikus kaki putih yang membawa kutu pembawa bakteri Borrelia. Saat populasi tikus kaki putih meningkat dan pemukiman mulai meluas di tepian hutan, demikian pula dengan penyakit Lyme ini. Di Malaysia di tahun 1999, alih fungsi lahan dari hutan tropis ke kebun kelapa sawit mengganggu habitat kelelawar, yang menyebarkan virus Nipah ke hewan peliharaan dan kemudian manusia. Terakhir, sebagaimana dilaporkan oleh Gubler dalam studinya, demam berdarah dengue menjadi epidemi di negara-negara subtropis seperti Taiwan sebagai akibat dari perubahan iklim (yang menyebabkan suhu rata-rata di Taiwan utara lebih tinggi dan menjadi habitat baru bagi Aedes aegypti) yang diikuti urbanisasi dan mobilitas internasional.

Hubungan antara penyakit menular dan krisis lingkungan hidup terbangun cukup kompleks dan dua arah. Di satu sisi, krisis lingkungan hidup meningkatkan kerentanan (vulnerability) dari kelompok masyarakat tertentu, yang menyebabkan perubahan perilaku. Hal ini, disertai dengan kondisi lingkungan hidup itu sendiri, mendorong meningkatnya wabah penyakit, sebagaimana dipaparkan dengan banyak contoh di atas. Anna Talman dkk[9] dalam studinya menambahkan satu analisis – bahwa dampak penyakit terhadap dinamika sosial juga dapat berbalik ke kerusakan lingkungan hidup yang lebih besar lagi. Dalam studi mereka tentang interaksi antara HIV/AIDS dan lingkungan hidup, Talman dkk mengangkat konsep yang disebut syndemic yang menjelaskan hubungan timbal balik tersebut (lihat Gambar 2). Hubungan siklik ini berlaku pula untuk berbagai bentuk penyakit lain, seperti Corona Virus sebagaimana diberitakan di media elektronik dan media sosial di paragraf pertama dari tulisan ini.

 

talman

Gambar 2. Hubungan syndemic antara degradasi lahan, kerawanan pangan dan HIV (Sumber: Talman dkk 2013: 258)

 

Modernitas dan masyarakat resiko

Di titik ini, saya akan berhenti bercerita tentang hubungan antara penyebaran penyakit dan lingkungan hidup dan mengajak Anda mendalami apa keterkaitan antara penyakit dan krisis lingkungan di dalam konteks konstruksi sosial masyarakat modern saat ini. Kita sudah melihat bagaimana modernisasi, globalisasi dan industrialisasi yang membawa banyak perubahan di wajah bumi ini juga turut berkontribusi terhadap munculnya penyakit-penyakit baru (atau muncul kembalinya penyakit lama) dalam laju, jumlah dan sebaran yang tidak terbayangkan. Kita juga memahami bahwa dinamika sosial dan pertumbuhan ekonomi meningkatkan resiko masyarakat, khususnya yang terpinggirkan, terhadap penyakit, yang pada akhirnya menjadi pemicu kerusakan lingkungan hidup yang lebih besar. Pertanyaannya sekarang: apa yang menyebabkan baik epidemi dan krisis lingkungan hidup ditanggapi dengan cara yang begitu berbeda dari satu masyarakat dan masyarakat yang lain? Mengapa kita, masyarakat Indonesia, bisa tidak percaya pada perubahan iklim[10] tapi ketakutan dengan Corona Virus? Dan apa implikasi dari kehidupan modern saat ini terhadap cara berpikir kita tentang penyakit dan krisis lingkungan hidup?

Kalau pertanyaan-pertanyaan itu mengetuk rasa penasaran Anda, maka ada baiknya kita melirik satu pemikir besar di sosiologi dalam bukunya di penghujung abad ke-20[11], Ulrich Beck, yang bercerita tentang masyarakat (yang terfokus pada) resiko. Ulrich Beck adalah seorang sosiolog Jerman yang perkembangan intelektualnya sebagai Profesor di University of Munich mengiringi tumbuhnya fenomena-fenomena baru di masyarakat modern tentang perubahan lingkungan di skala global. Kasus Minamata di Jepang di tahun 1950an, kebocoran nuklir di Chernobyl di tahun 1986, pencemaran lingkungan pertanian akibat pestisida yang didokumentasikan dalam buku Silent Spring[12] – semuanya memicu kesadaran global tentang resiko atas krisis lingkungan hidup. Beck menilai bahwa cara masyarakat saat ini memandang resiko sama sekali berbeda dengan apa yang dilihat oleh masyarakat (khususnya di Eropa) di abad ke-19.

Beck mengidentifikasi masyarakat modern di Eropa di abad ke-19 dan awal abad ke-20 sebagai masyarakat (yang terfokus pada) kekayaan (atau istilah Beck, masyarakat kelas). Cara pandang masyarakat ini berangkat dari kesadaran akan keterbatasan sumberdaya. Jargon utama di masyarakat ini adalah, ‘Saya lapar!, yang mendorong berkembangnya teknologi yang bertujuan untuk memenuhi ketahanan pangan (baca: Revolusi Hijau), mengakumulasi kekayaan sebesar-besarnya dan mengeksploitasi sumberdaya alam tanpa batas. Kesenjangan sosial-ekonomi (antar negara dan di dalam suatu negara) terbangun sebagai salah satu ekses dari cara pandang modernitas ini, meskipun dorongan untuk mendistribusikan kekayaan juga terjadi. Di sisi lain, resiko dipandang sebagai sesuatu yang dapat diperhitungkan dan diinternalisasi oleh individu (bukankah ini juga bagaimana asuransi bekerja?). Sebagai individu, saya memutuskan untuk mengambil resiko untuk menjelajah ketimbang diam di rumah, karena saya tahu implikasi dari resiko tersebut. Kerusakan lingkungan hidup adalah sesuatu yang nyata – dapat disentuh, dicium, dirasakan. Katanya, di abad ke-19, seseorang yang jatuh ke sungai Thames tidak akan mati tenggelam, tapi lebih dulu tersedak oleh limbah yang memenuhi sungai itu. Resiko, dalam hal ini, dapat diisolasi di dalam ruang, tempat dan masyarakat yang terbatas.

Memasuki penghujung abad ke-20, masyarakat di negara-negara maju sudah memasuki titik di mana kelangkaan tidak lagi terjadi. Kekayaan telah terakumulasi, dan ketahanan pangan tercapai. Meskipun begitu, alih-alih mencapai kestabilan, masyarakat modern kembali dihantui, kali ini bukan oleh perasaan kekurangan, tapi oleh perasaan gelisah akan segala resiko yang dimunculkan oleh kemajuan zaman dan pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat. Dari saya lapar, jargon baru masyarakat modern adalah ‘Saya takut!’. Konsepsi tentang resiko berubah. Resiko menjadi sesuatu yang abstrak, tidak lagi personal dan tidak lagi dapat diperhitungkan. Resiko menjadi sesuatu yang tidak dapat diantisipasi. Siapa yang bisa mengantisipasi bencana Chernobyl, pemanasan global, atau pandemi Corona Virus? Krisis lingkungan hidup menjadi suatu abstraksi yang berjarak dari masyarakat. Di sisi lain, resiko menjadi sesuatu yang global, tidak dapat diisolasi dan tidak terbatas ruang dan waktu. Saya sadar (dan khawatir) akan resiko perubahan iklim, GMO, mikroplastik atau radioaktif, tapi saya tidak merasakan atau melihat resiko itu secara langsung. Di suatu tempat, mungkin iya, kerusakan hutan berdampak langsung kepada masyarakat, tetapi itu kecil ketimbang ketakutan yang dirasakan oleh saya di ujung dunia lain. Tetap saja, saya khawatir bahwa sewaktu-waktu kekeringan besar, hujan badai, atau bencana katastrofik akan sampai di depan pintu saya. Resiko menjadi sesuatu yang diinterpretasikan sebagai hubungan sebab-akibat yang hanya dapat diterjemahkan oleh elite tertentu (kalangan ilmiah, misalnya).

Distribusi kekayaan yang tidak setara sejak dulu memberikan privilese bagi masyarakat kelas penguasa yang mampu mengamankan dirinya  dari kelangkaan di balik tembok kastil yang kokoh atau lahan pertanian yang luas. Hal ini yang membedakan masyarakat kelas dengan masyarakat resiko. Di masyarakat resiko, semua anggota masyarakat, tak peduli status ekonominya, memiliki kekhawatiran yang sama dalam persepsinya tentang resiko. Jelas, bukan berarti bahwa resiko yang dimiliki masyarakat kelas atas sama dengan rakyat jelata. Tapi setiap orang merasakan kekhawatiran yang sama bahwa krisis lingkungan hidup, wabah penyakit dan bencana dapat menyentuh siapa saja, berapapun kekayaan yang kamu miliki. Beck, di sisi lain, juga mengakui bahwa kesenjangan ekonomi di dalam suatu negara atau antar negara mempengaruhi cara negara-negara tersebut menerapkan kebijakan yang didasari pada kekhawatiran akan resiko. Negara maju akan cukup nyaman berbicara tentang Lockdown, sementara negara berkembang akan memperhitungkan segala dampak ekonomi dan sosial dari pertumbuhan ekonomi yang terhenti. Ini menciptakan kesenjangan dalam bentuk yang baru.

Satu hal yang digarisbawahi oleh Beck adalah bahwa pertumbuhan ekonomi dan kapitalisme global adalah keharusan. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi global menyebabkan resiko yang mengglobal juga. Menurut Beck, semakin massif pertumbuhan ekonomi, semakin tidak bisa dihindari pula resiko global dari krisis lingkungan hidup. Di sisi lain, karena pertumbuhan ekonomi adalah norma, maka resiko akan selalu bisa dikapitalisasi menjadi pertumbuhan ekonomi lebih lanjut. Ini terus berlanjut sampai krisis lingkungan hidup berkelindan erat dengan krisis sosial dan ekonomi. Karena sifatnya yang global dan menyentuh berbagai sendi perekonomian, krisis lingkungan hidup seperti wabah penyakit dan perubahan iklim mampu menyebabkan kelumpuhan pada sistem perekonomian dan menyebabkan keresahan sosial yang mendalam – lebih buruk dari fenomena ekologis itu sendiri.

Ujung dari teori Beck tentang masyarakat resiko adalah apa yang ia sebut dengan modernitas refleksif[13] (reflexive modernity). Beck bukan satu-satunya yang bekerja dengan ide refleksif. Di tahun 1990, Anthony Giddens[14], seorang sosiolog penting lainnya, juga bicara tentang refleksivitas dalam kritiknya tentang modernitas. Keduanya berbicara tentang modernitas refleksif yang ditandai oleh melimpah ruahnya informasi  (sangat tepat di tengah pertumbuhan teknologi digital dan media sosial di era sekarang ini). Hal ini menyebabkan masyarakat mempertanyakan kembali legitimasi dari dunia ilmiah (yang dianggap seringkali salah atau bias kepentingan) dan membangun kerangka-kerangka pengetahuan alternatif yang dapat memberikan solusi yang baik bagi krisis yang dihadapi. Terjadi demistifikasi sains dan demonopolisasi pengetahuan. Masyarakat juga mempertanyakan legitimasi dan keseriusan pemerintah dalam mengelola resiko, melalui apa yang Beck sebut dengan kelalaian yang terorganisir (organized irresponsibility). Ini bukan (sepenuhnya) karena pemerintah lalai, tapi karena resiko yang dihadapi memang tidak terbayangkan dan mendobrak batas-batas jurisdiksi negara. Tidak heran Greta Thurnberg mencaci maki pemerintah seluruh dunia atas kegagalan mereka menyelamatkan generasi masa depan. Lalu apa yang dilakukan masyarakat dalam situasi ini? Mereka berorganisasi membangun ruang-ruang alternatif baru atas modernitas – mereka, kita, berefleksi.

Refleksi (Reflective vs Reflexive)

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dan refleksikan dari seluruh paparan di atas? Bagian pertama adalah penggalian kita atas pengetahuan ilmiah yang memberikan justifikasi bahwa wabah penyakit (termasuk virus Corona) memang berkelindan dengan krisis lingkungan hidup (deforestasi, degradasi lahan, perubahan iklim, penurunan biodiversitas), tapi dalam hubungan timbal balik yang jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan – dalam hubungan yang juga melibatkan manusia sebagai tokoh sentral. Bagian kedua adalah tentang bagaimana kita berefleksi. Keterlibatan manusia di antara wabah penyakit dan krisis lingkungan hidup tidak sesederhana pelengkap penderita di dalam segitiga penyebaran penyakit, sebagaimana dipelajari di dalam epidemiologi. Di dalam kaca mata sosiologis, manusia berperan dalam membangun imajinasi dan konstruksi sosial tentang resiko dan cara penanganannya, tentang modernitas dan kebenaran pengetahuan, tentang upaya membelokkan jalannya pembangunan dari konsekuensi negatifnya.

Refleksi di sini, di satu sisi diterjemahkan dari reflective (bercermin, introspeksi, mawas diri) dan reflexive (menghindar dan membangun alternatif realita baru)[15]. Di dalam bercermin, kita melihat ke dalam diri kita dan mempertanyakan sejauh mana kita sudah berkontribusi di dalam penanganan krisis lingkungan hidup, apakah kita bersikap konstruktif dan membantu pencegahan wabah ke arah yang lebih buruk, atau bersikap destruktif dengan berlaku apatis. Kasarnya, kita mengambil pelajaran tentang COVID-19 untuk diri kita: rebahan pun berkontribusi bagi masyarakat, apabila kita bisa memaknai dengan benar.

Di sisi lain, refleksif mendorong kita untuk mengakumulasi pengetahuan, melihat lebih jauh atas implikasi pengetahuan kita, atau implikasi dari fenomena ekologis yang terjadi di Indonesia saat ini dan keterkaitannya dengan fenomena sosial, ekonomi dan ekologis lain yang lebih luas. Sekedar bertanya: keseimbangan baru seperti apa yang akan terbentuk bila kita bersikap lebih ramah terhadap alam? Refleksif menuntut kita untuk tetap kritis terhadap otoritas pengetahuan. Terakhir, seperti kata Giddens, refleksif menuntut kita untuk menjadi agen yang membangun struktur sosial baru di imajinasi alternatif kita tentang masa depan – imajinasi di mana manusia, mikroorganisme dan alam berada dalam kesetimbangan ekologis.

 

Catatan akhir:    

[2] https://www.suara.com/tekno/2020/02/04/143737/deforestasi-picu-perpindahan-virus-dari-hewan-ke-manusia-seperti-di-wuhan

[3] https://news.trust.org/item/20200326102213-ntsuv/?lang=13

[4] https://www.bbc.com/news/science-environment-51944780

[5] https://www.euronews.com/2020/03/30/coronavirus-is-wildlife-the-big-beneficiary-of-the-covid-19-lockdown

[6] https://www.japantimes.co.jp/news/2020/03/19/world/science-health-world/plastic-coronavirus/#.XoVPRpMzbOQ

[7] McMichael, A.J., 2004. Environmental and social influences on emerging infectious diseases: past, present and future. Philosophical Transactions of the Royal Society of London. Series B: Biological Sciences359(1447), pp.1049-1058.

[8] Selain McMichael, lihat misalnya: Gubler, D.J., 1998. Dengue and dengue hemorrhagic fever. Clinical microbiology reviews11(3), pp.480-496.

[9] Talman, A., Bolton, S. and Walson, J.L., 2013. Interactions between HIV/AIDS and the environment: Toward a syndemic framework. American journal of public health103(2), pp.253-261.

[10] Berdasarkan Survey Global di 2019: https://www.vice.com/en_in/article/a3x3m8/indonesia-climate-change-deniers-yougov-poll

[11] Beck, U., Lash, S. and Wynne, B., 1992. Risk society: Towards a new modernity (Vol. 17). SAGE Publishing.

[12] Carson, R., 1962. Silent spring. Houghton Mifflin Harcourt.

[13] Cara mudah menjelaskan refleksif mungkin seperti ini. Refleksif memiliki makna yang sama dengan refleks – saat kita menyentuh benda panas, refleks kita adalah menarik tangan kita. Proses refleks ini menyebabkan tangan kita tidak lagi terluka akibat panas tersebut. Sama halnya, refleksivitas adalah proses di mana masyarakat menarik diri dari modernitas, dan mengambil langkah lain (alternatif) yang berbeda dengan jalan yang sebelumnya ditempuh. Model-model ilmiah yang memprediksi masa depan manusia menjadi tidak berlaku karena manusia bisa memilih jalur yang berbeda dari model yang ditawarkan. Di dalam melihat refleksivitas terhadap krisis lingkungan hidup, aktivisme lingkungan adalah salah satu contoh yang paling nyata.

[14] Giddens, A., 1990. The consequences of modernity. John Wiley & Sons.

[15] Di dalam proses belajar, reflektif diartikan sebagai upaya bercermin dan belajar dari apa yang sudah dipelajari, sementara refleksif adalah memahami apa yang dipelajari dan implikasinya dalam konteks yang lebih luas. Lihat: Bolton, G., 2012. Who is telling the story? The critical role of the narrator in reflective and reflexive writing. Educational reflective practices.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *