Tulisan ini adalah narasi personal saya atas makalah akademis yang saya susun untuk kegiatan diskusi di Pusat Analisis Sosial AKATIGA bulan Juni 2016 lalu. Makalah yang dimaksud dapat diunduh di sini: Makalah_Angga_AKATIGA.

Kita berhenti sejenak di penghujung tahun 1997. Saat itu musim kemarau berkepanjangan. Banyak sawah tadah hujan praktis tidak berproduksi. Di tempat lain, air yang tetap tersedia di sawah-sawah irigasi seolah menguntungkan para petani, tetapi ledakan hama turut menghantui berlangsungnya pertanian padi di pantura. Indonesia berjalan tertatih. Subsidisasi pertanian yang gencar digulirkan dari awal tegaknya orde baru kini mulai melemah — pemerintah kehabisan uang. Bahkan sebelum krisis moneter meledak yang berujung pada digulingkannya rezim orde baru dan kerusuhan besar-besaran di banyak kota di Indonesia, petani sudah tahu bahwa ini bukan akhir yang baik. Menarik sekali tulisan yang disusun oleh Borgeouis dan Gouyon dalam mengulas detik-detik reformasi Indonesia tahun 1998 bahwa, dalam wawancaranya dengan petani, bukan krisis keuangan yang ditakuti oleh mereka, tetapi krisis lingkungan dan ketidakmampuan mereka (mereka dalam hal ini tidak hanya petani, tetapi juga seluruh elemen bangsa) untuk selamat dari itu. Apa yang terjadi?

Tapi badai memang berlalu. Dan di tengah badai itu, kita melihat banyak petani dan penduduk desa melakukan banyak keajaiban untuk mampu selamat dari krisis yang menimpa. Melalui lumbung desa, usaha-usaha informal dan kekuatan keluarga, mereka mampu menembus krisis tersebut dan tetap setia menghasilkan pangan bagi masyarakat. Mereka (dalam hal ini setidaknya para petani), boleh dibilang, menunjukkan kapasitasnya untuk tetap lenting di tengah perubahan. Para petani mampu melenting dan beradaptasi, dan oleh karenanya sistem pertanian-pangan pun menjadi lenting… atau setidaknya itu gagasan sederhananya. Resiliensi sistem menjadi lebih penting dari sekedar keberlanjutan (sustainability).

Konsep resiliensi, atau kelentingan, atau daya lenting, atau ketahanan, sudah semakin sering digunakan sebagai kata pemikat baru bagi praktisi dan pengambil kebijakan yang memiliki perhatian terhadap isu keberlanjutan. Dari sekian banyak definisi (baik dari ranah psikologi, ekologi, teknik, kebencanaan, dsb.), saya mengambil pengertian Buzz Holling, seorang ahli ekologi sistem, yang mendefinisikan resiliensi sebagai seberapa besar suatu sistem/masyarakat mampu menghadapi tekanan sebelum ia bergeser ke suatu kondisi kestabilan yang baru. Layaknya pegas yang kembali ke posisi awal setelah mengalami tekanan, masyarakat atau sistem yang lenting adalah ia yang dapat kembali ke kondisinya semula di tengah krisis dan perubahan yang terjadi, atau ke suatu kondisi baru yang secara esensi sama. Para petani padi di Jawa yang berhasil bertahan dari ledakan hama dan kekeringan akibat ENSO dapat dikatakan lenting/resilient.  Beberapa perkebunan rakyat dan perkebunan milik negara yang pada akhirnya gulung tikar atau dibumihanguskan karena produktivitas yang sangat rendah dan tidak menguntungkan, di sisi lain, mungkin tidak se-lenting kasus sebelumnya. Tentu, tujuan besar kebijakan nasional adalah menjadikan sistem-sistem pertanian-pangan (dilihat sebagai kesatuan sistem produksi-distribusi-konsumsi komoditas pangan) yang ada di negara ini memiliki kelentingan yang tinggi — dengan kata lain, mereka mampu selalu bertahan dari guncangan dan krisis apapun yang menghadang.

Sekarang ke permasalahan: resiliensi menjadi dilematis ketika kita perlu mendefinisikan apa itu sistem, apa itu guncangan, dalam skala apa sistem dan guncangan itu berada, dan apa itu kondisi kestabilan. Sebagai contoh, sistem pertanian konvensional di Jawa bisa jadi lenting, tapi petani-petani di dalamnya mungkin tidak. Sistem tersebut juga mungkin sangat lenting terhadap perubahan iklim, tapi tidak terhadap guncangan politik (dan mungkin juga tidak terhadap kombinasi semuanya, seperti yang terjadi di tahun 1998). Lebih lanjut, resiliensi bisa jadi bukan sesuatu yang kita inginkan. Brian Walker, juga seorang ahli ekologi, menggambarkan suatu sistem ekologi-sosial yang sangat lenting, tapi tidak bisa ditinggali oleh masyarakat, dan oleh karena itu mengubah sistem untuk berpindah ke kondisi kestabilan yang baru yang mungkin lebih diharapkan menjadi satu keharusan.

Di dalam makalah saya di atas, saya bercerita tentang kerangka teoritis dari konsep resiliensi, mengkombinasikannya dengan satu kerangka sosiologis-historis yang dapat membantu memahami bagaimana sistem-sistem pertanian-pangan di dunia berubah, tumbuh, hancur dan tumbuh lagi dengan bentuk yang baru. Bagi akademisi seperti saya, bermain-main dengan teori dan abstraksi adalah hal yang menarik — ini membantu saya memahami berbagai sudut pandang tentang apa dan mengapa dari sistem pangan dunia: mengapa ia tumbuh seperti sekarang ini, bagaimana ia mempengaruhi arah dari sistem pertanian kita sendiri, dan apa yang akan muncul dalam beberapa tahun ke depan. Akan tetapi, bagi praktisi dan pemerhati pertanian, teori resiliensi mungkin tidak bermakna apa-apa. Petani kecil tetap saja terjepit, industri tetap saja merusak lingkungan. Ataukah demikian?

Di dalam dua puluh tahun ke belakang, banyak akademisi sosial mengemban tugas tambahan sebagai aktivis sosial. Mereka tidak lagi semata memotret kondisi masyarakat, tetapi juga bergerak bersama masyarakat. Akademisi dapat berperan, setidaknya dalam membantu menyediakan konteks — apa yang terjadi di sini saat ini tidak lepas dari apa yang terjadi di luar sana, jadi yang kita lakukan di sini saat ini pun perlu dapat bersinergi dengan yang orang lain lakukan di luar sana, dulu dan sekarang. Memahami resiliensi, dalam hal ini, berujung pada setidaknya satu hal: bahwa kita perlu bersama-sama memperbesar ruang-ruang sistem yang kita kehendaki bersama, yang mampu lebih banyak mensejahterakan masyarakat dan melestarikan alam, sambil memperkecil ruang-ruang yang menindas banyak orang dan lingkungan. Aktivisme berbicara tentang itu. Semakin banyak yang peduli pada pangan lokal dan komunitas, maka semakin condong sistem pertanian-pangan kita bergeser pada kondisi yang diharapkan.  Sistem pertanian-pangan Indonesia mungkin pada akhirnya dapat kehilangan resiliensinya atas industrialisasi dan pengerukan alam, dan berpindah pada kondisi kestabilan baru yang lebih baik, setidaknya menurut saya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *