Sekira sebulan yang lalu, saya ditantang oleh rekan-rekan di grup DISKURSUS di Mesjid Salman ITB untuk menggali kembali apa yang telah saya pelajari di bangku kuliah dulu tentang teori evolusi. Merasa sudah tidak kompeten lagi untuk membahasnya dari kacamata biologi, saya pun mencoba menulis ulasan tentang teori evolusi sebagai seorang akademisi sosial. Dalam membahas tentang Darwin, saya menggunakan kerangka sosiologi pengetahuan dari Thomas Kuhn. Makalah ini dipresentasikan di Diskusi 2 mingguan Sains dan Spiritualitas di Mesjid Salman. Jadi lah tulisannya seperti ini…

Pendahuluan: ‘Meruntuhkan’ teori evolusi

Di awal abad ke-21, para ilmuwan biologi di dunia digelitik oleh terbitnya buku Keruntuhan Teori Evolusi dari Harun Yahya, yang disusul oleh beberapa buku lagi di dalam seri Atlas Kreasionisme-nya. Reaksi para ilmuwan beragam. Beberapa di antara mereka mencemooh, sebagian lagi memuji, dan yang lain terlalu terperangah untuk memberi komentar. Satu tulisan di The New York Times melihatnya sebagai bentuk tantangan terhadap teori Evolusi yang terbesar dan terindah hingga saat ini (‘probably the largest and most beautiful creationist challenge yet to Darwin’s theory). Para pakar, tentu saja, menganggap ini sebagai olok-olok belaka, berdalih bahwa tidak ada bukti-bukti yang mendasar yang disampaikan oleh Harun Yahya dalam membantah teori evolusi.

Tantangan atas teori evolusi, tentu saja, bukanlah hal baru. Pertentangan antara pandangan kreasionisme dari institusi Gereja dan dunia ilmiah telah ada bahkan sejak teori tersebut ditawarkan oleh Charles Darwin di dalam On the Origin of Species di tahun 1859. Tidak lama setelahnya, gambar karikatur Darwin bertubuhkan kera beredar di media cetak, sebagai bentuk olokan terhadap pandangannya. Bisa dibilang, pandangan kreasionisme dan anti-teori evolusi berkembang dari agama Nasrani, mengingat banyaknya pertentangan di antara keduanya, seperti bagaimana bumi diciptakan 10.000 tahun yang lalu di dalam pandangan Nasrani, dan ini secara mendasar bertolak belakang dari evolusi mahluk hidup yang memakan waktu jutaan tahun di dalam teori evolusi. Sebuah survey yang dilakukan oleh Gallup di tahun 2014 menemukan bahwa 42% dari penduduk Amerika serikat, terutama dari mereka yang religious, berpendidikan rendah, dan generasi yang lebih tua, percaya bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dalam bentuk sempurnanya kurang dari 10.000 tahun yang lalu, atau dengan kata lain, tidak menerima teori evolusi. Hal yang menarik adalah, sebanyak 31% percaya bahwa manusia memang diciptakan oleh Tuhan, tetapi dengan jalan evolusi. Saya akan kembali ke sini nanti.

Gelombang kreasionisme Nasrani disinyalir menyebar ke Islam secara terstruktur di Turki, melalui kerjasama antara pemerintah Turki dengan lembaga di Amerika serikat yang bernama Institute for Creation Research (ICR) di tahun 1980an. Adnan Oktar, yang kemudian dikenal dengan nama pena Harun Yahya, menjadi salah satu penggerak dari kreasionisme Islam di Turki, menyalahkan teori evolusi sebagai salah satu penyebab berkembangnya paham materialisme, atheisme dan komunisme. Kampanyenya dalam ‘meruntuhkan’ teori evolusi mungkin layak diacungi jempol. Buku-bukunya, yang dicetak di atas lebih dari 800 halaman dengan gambar-gambar indah beresolusi tinggi, disebarkan ke sekolah-sekolah dan universitas di seluruh dunia, khususnya Eropa dan Amerika serikat, secara cuma-cuma. Video berkualitas gambar tinggi dapat diakses dan diunduh dengan mudah di internet. Tak ayal, buku Keruntuhan Teori Evolusi, meski dicemooh  oleh kalangan akademisi, mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat awam. Di Amerika serikat, banyak sekolah mewajibkan ajaran kreasionisme sebagai bagian dari kurikulum. Di Indonesia, secara anekdotal saya mendapati bahwa beberapa sekolah menjadikan karya-karya Harun Yahya sebagai bacaan wajib. Bahkan salah satu buku pelajaran Biologi yang pernah saya baca memaparkan bantahan terhadap teori evolusi dengan argumen bahwa Tuhan menciptakan setiap mahluk hidup dalam bentuknya yang sempurna seperti sekarang ini, dan manusia bukanlah keturunan kera!

Memahami perkembangan pandangan evolusi

Narasi di atas setidaknya menggambarkan dua hal: bahwa pertentangan antara kreasionisme dan evolusionisme tidak akan ada habisnya, dan bahwa para ilmuwan biologi seolah begitu keras kepalanya untuk menerima tantangan terhadap teori besar yang diusungnya itu. Saya mungkin pernah menjadi salah satu di antara yang menantang teori evolusi. Saat masih berstatus sebagai mahasiswa Biologi belasan tahun yang lalu, saya menjadi penerjemah di salah satu buku di dalam seri Keruntuhan Teori Evolusi Harun Yahya. Tidak banyak yang saya pikirkan saat itu, tidak pula saya membenci teori evolusi – toh, saya pun belajar mengenai evolusi di bangku kuliah. Yang menjadi pertimbangan saya saat itu, selain tambahan uang saku, adalah bahwa akan menjadi menarik bila kita bisa menantang menara gading teori besar biologi ini. Saya tidak menyadari saat itu bahwa teori evolusi tidak dibangun sendiri oleh Charles Darwin, dan tidak pula ia dibangun tanpa pertentangan.

Pandangan evolusi, seperti halnya kreasionisme, telah ada lama sebelum Darwin menuliskan buku On the Origin of Species. Pandangan bahwa alam tidak diciptakan dengan ‘sengaja’ dan mahluk hidup diciptakan dalam keadaan sempurnanya sudah bergulir sejak masa filsafat Yunani dan Romawi. Sementara Aristoteles memandang bahwa setiap materi adalah aktualisasi dari gambaran idealnya, atau forma (species di dalam bahasa Latin), Lucretius di dalam puisinya De rarum natura menggambarkan bagaimana mahluk hidup diturunkan dari mahluk hidup lain, dan semuanya terjadi secara kebetulan (fortuna). Hal ini yang kemungkinan menjadi dasar bagi berkembangnya ilmu hayati di dalam ranah metode ilmiah modern. Salah seorang ilmuwan yang mengusung ini adalah Erasmus Darwin, kakek dari Charles Darwin, yang mengusulkan bahwa semua mahluk hidup besar bisa jadi berasal dari mikroorganisme. Sebaliknya, ilmuwan lain seperti William Paley, seorang filsuf dan Nasrani, berargumen bahwa mahluk hidup sudah ada di dalam bentuk sempurnanya sejak awal, dan kemiripan yang ada antara mahluk hidup (misal: sayap burung dan sayap kelelawar) bukanlah dasar dari evolusi, tetapi sebatas kemiripan desain atas dasar fungsi yang sama. Lebih lanjut ia mengembangkan bahwa berbagai variasi dan adaptasi di tubuh mahluk hidup merupakan sebuah desain keilahian yang menakjubkan dari Tuhan, melalui hukum-hukum alamiah, agar mahluk hidup tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya di alam.

Charles Darwin, meski sangat mengagumi Paley, pada akhirnya membantah argumennya. Darwin lebih cenderung menerima pandangan bahwa evolusi terjadi dan menyebabkan variasi di tubuh berbagai organisme yang ada di bumi, seperti teori transmutasi dari Jean-Baptiste Lamarck, seorang naturalis, meskipun ia pun tidak menerima teori itu sepenuhnya. Teori Lamarck mungkin bisa dibilang teori tentang evolusi yang paling berkembang dan menyeluruh saat itu. Teori transmutasi mengangkat dua postulat, bahwa setiap organisme berubah secara perlahan dan mewaktu dari yang paling sederhana menjadi semakin kompleks, dan bahwa setiap organisme menyesuaikan diri terhadap lingkungan setempatnya agar dapat bertahan hidup. Di dalam teori Lamarck tersirat bahwa mahluk hidup berkembang menuju kesempurnaan, dan oleh karena itu Lamarck juga percaya akan adanya Tuhan yang menggerakkan proses evolusi ini, meskipun di dalamnya semua berjalan sesuai hukum/postulatnya. Satu hal yang terbantahkan dari teori Lamarck adalah bahwa perubahan yang terjadi pada tubuh satu individu mahluk hidup kemudian diturunkan ke anak-anaknya. Ilustrasi klasik dari teori Lamarck adalah pada jerapah yang berupaya menggapai pucuk daun di pohon yang tinggi, yang karena upayanya akan memanjangkan lehernya secara mewaktu. Lehernya yang sedikit demi sedikit memanjang ini akan diturunkan ke anak-anaknya, sehingga di setiap generasi akan ada jerapah dengan leher yang lebih panjang. Hal ini tentu saja tidak terjadi.

Meskipun demikian, teori Lamarck ini, beserta teori-teori lain tentang keanekaragaman hayati pada zamannya, menjadi sumber inspirasi bagi Charles Darwin di dalam mengembangkan teorinya tentang seleksi alam. Saya coba sedikit bercerita tentang Darwin untuk memberikan sedikit konteks. Charles Darwin lahir di Inggris pada 12 Februari 1809 dari keluarga terpandang di Inggris. Ayahnya adalah seorang dokter dan Ibunya seorang ahli keuangan. Charles Darwin lahir di keluarga Kristen Unitarian dan Anglikan. Meskipun demikian, Ia dibesarkan di keluarga yang berpikiran terbuka dan peduli pada lingkungan. Kakeknya, Erasmus Darwin, selain seorang ilmuwan, juga merupakan pembebas budak. Darwin mengambil studi kedokteran di fakultas kedokteran terbaik saat itu di University of Edinburgh. Di awal kuliahnya, ia belajar banyak tentang taxidermy (seni mengawetkan hewan) dari seorang mantan budak belian yang pernah berpetualang ke hutan hujan tropis di Amerika selatan. Agaknya, itu yang membentuk kecintaannya akan ilmu hayati. Di tahun keduanya, ia bergabung dengan Plinian Society, perhimpunan mahasiswa yang menantang konsep ortodoks agama akan sains. Di saat itu Darwin semakin tertarik dengan ilmu hayati, khususnya yang diusung oleh kakeknya dan Lamarck. Ia belajar banyak tentang sistem klasifikasi Linnean pada tumbuhan, dan belajar dari koleganya tentang koleksi spesies-spesies kumbang dan serangga. Merasa bosan dan tidak serius dengan kuliah kedokterannya, ayahnya kemudian memindahkan Darwin ke sekolah teologi agar ia dapat menjadi seorang anglikan. Sepertinya ilmu hayati memang jalannya, karena di kampusnya yang baru di Christ’s College, Darwin justru belajar banyak tentang karya-karya William Paley. Di titik ini, Darwin semakin menunjukkan ketertarikannya untuk mengeksplorasi dunia hayati lebih luas lagi, khususnya di daerah tropis.  

Mungkin titik terpenting dari hidup Charles Darwin di dalam interaksinya dengan bukti-bukti empiris kehayatian adalah saat ia mendapatkan kesempatan untuk mengelilingi dunia selama lima tahun di atas HMS Beagle, melalui Amerika Latin, Australia, dan Afrika, sebagai seorang naturalis. Darwin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Selama perjalanan, ia mencatat semua temuannya dan mengoleksi banyak mahluk hidup, terutama serangga dan invertebrata laut. Di daratan yang ia kunjungi, Darwin menemukan fosil dari spesies yang telah punah, berbagai jenis hewan yang baru kali itu ia temui, berbagai jenis burung dengan variasi bentuk paruh, dan banyak lagi. Kesemuanya ia catat, beberapa spesimen ia koleksi, dan kelak tulisan-tulisannya ia publikasikan. Darwin juga menemui banyak hal yang membuatnya sedih, seperti perbudakan di Amerika selatan dan respon dari masyarakat pedalaman yang jauh dari peradaban. Hal ini membuatnya sadar bahwa manusia pada dasarnya sama karena kita berasal dari asal leluhur yang sama pula, bahkan dengan hewan. Tidak seperti Lamarck yang melihat bahwa mahluk hidup berkembang menuju kesempurnaan, Darwin berkeyakinan bahwa tidak ada yang lebih tinggi atau sempurna dari yang lainnya. Agaknya ini yang membentuk pandangannya tentang evolusi.

Charles Darwin dikenal sebagai orang yang sangat berhati-hati. Ia mungkin mencerminkan potret ideal dari ilmuwan di zaman itu, tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan, mengumpulkan sebanyak-banyaknya data empiris, dan menerapkan prinsip-prinsip ilmiah yang ketat (rigourous). Di setiap spekulasinya atas teori baru, ia selalu membubuhkan kata-kata ‘I think’ atau ‘would’ untuk menghindari dari berbuat ceroboh dan sombong. Membutuhkan waktu 23 tahun baginya sejak kembali dari perjalanannya di atas Beagle untuk akhirnya mempublikasikan On the Origin of Species. Meskipun demikian, tulisan-tulisannya tentang temuan empirisnya atas berbagai jenis mahluk hidup di daratan yang ia kunjungi menaikkan namanya di antara para naturalis. Ini memungkinkan Darwin berinteraksi dengan banyak naturalis lainnya, salah satunya yang membentuk pemikirannya tentang spesiasi – bahwa spesies tidaklah stabil dan perubahan dapat terjadi yang menyebabkan terbentuknya spesies baru. Ini ia dapat dari temuannya tentang spesies-spesies burung Finch dan burung Rhea yang berbeda di lokasi-lokasi yang berjauhan, meskipun perbedaannya secara fisik hanya sekedar perbedaan paruh dan/atau warna bulu. Surat menyuratnya dengan Alfred Russell Wallace yang mengembangkan teori dan melakukan eksplorasi serupa di kepulauan Nusantara menguatkan pandangannya tentang seleksi alam, selain mendorongnya untuk segera mempublikasikan tulisannya. Bacaannya yang mendalam tentang teori populasi Malthusian juga mengokohkan teorinya mengenai adaptasi dan survival di dalam populasi. Bahwa populasi akan selalu tumbuh melebihi daya dukungnya, dan oleh karena itu kemampuan untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan sumberdaya dan variasi di dalam populasi tersebut, menjadi dasar dari teori evolusi yang diusungnya.

Buku On the Origin of Species adalah buah pemikiran Charles Darwin yang mendalam dan padat, merangkum banyak tulisan-tulisan empirisnya di dalam kerangka teori. Teori evolusi Darwin mengangkat seleksi alam di dalam populasi. Berbeda dengan Lamarck yang mengusung bahwa perubahan fisik terjadi secara perlahan di dalam individu dan populasi, Darwin berargumen bahwa di dalam populasi telah sejak awal terjadi variasi, baik variasi kecil maupun besar di antara individu-individu spesies tersebut. Karena ukuran populasi meningkat dan sumberdaya terbatas, beberapa individu dengan variasi kecil mungkin akan lebih mampu beradaptasi dan bertahan dibandingkan yang lain. Apabila perubahan pada kondisi alam terjadi secara mewaktu dan perlahan, maka variasi di dalam populasi tersebut pun akan terseleksi, di mana yang mampu beradaptasilah yang akan bertahan hidup. Dari sinilah istilah ‘survival of the fittest’ berasal. Perubahan yang terjadi secara bertahap ini, diikuti dengan isolasi geografis, morfologis atau perilaku antara satu kelompok di dalam populasi dengan yang lain, menciptakan spesies-spesies baru, suatu proses yang dikenal dengan spesiasi. Darwin membahas teori evolusi secara mendalam dan meluas, meliputi berbagai taksa mahluk hidup, dari serangga, tumbuhan, burung, mamalia hingga manusia. Meskipun demikian, yang ditawarkan oleh Darwin di dalam teorinya adalah suatu kerangka, di mana temuan-temuan dari ilmuwan-ilmuwan selanjutnya mungkin dapat mengisi lubang-lubang yang belum dapat ia jawab.

Teori Darwin dan biologi saat ini

Suatu paradigma ilmiah, menurut sosiolog ilmu pengetahuan Thomas Kuhn, muncul dari kesepakatan-kesepakatan yang ada di dalam suatu komunitas ilmiah. Meskipun di dalam diskusi-diskusi ilmiah tersebut proses falsifikasi terus terjadi, dan oleh karenanya Karl Popper berargumen bahwa objektivitas dan positivitas akan selalu terbangun, paradigm ilmiah di awal akan tetap menjadi kerangka acuan bagi terbangunnya tubuh pengetahuan (body of knowledge) yang lebih besar. Standing on the shoulders of giants, katanya, di mana di ranah ilmu biologi modern, si raksasa pada akhirnya adalah paradigma evolusi. Pasca dipublikasikannya teori evolusi oleh Charles Darwin, berbagai temuan di berbagai disiplin ilmu, termasuk zoologi, botani, perkembangan, anatomi, paleontologi dan genetika seolah mampu mengisi ruang-ruang kosong di tubuh teori evolusi. Gregor Mendel, seorang pastor dan naturalis, mengajukan apa yang dikenal dengan teori genetika klasik di mana sifat-sifat yang diturunkan terletak pada gen. Gen-gen ini dapat berubah seiring dengan terjadinya persilangan dan mutasi. Genetika modern, melalui model DNA Watson-Crick juga menguatkan hal tersebut, bahwa gen dibawa di dalam urutan basa DNA yang spesifik, dan perubahan di dalam urutan tersebut dapat tercermin ke dalam ekspresi sifat yang berbeda. Anatomi komparatif yang dibawa oleh Thomas Henry Huxley juga mendukung bahwa terdapat kekerabatan antara manusia dan kera, serta antara satu spesies dengan spesies lain secara lebih umum. Kini, berbagai variasi keanekaragaman hayati dapat dijelaskan secara lebih terstruktur dengan melihat bahwa ada hubungan kekerabatan antarspesies dan semua dapat dirunut ke leluhur yang sama. Berbagai cabang keilmuan baru muncul, seperti biologi perkembangan evolusi, biosistematik, dan genetika populasi yang secara eksplisit merujuk pada paradigm evolusi. Banyak hal ini mungkin yang mendasari Theodosius Dobzhansky, seorang ilmuwan biologi, di tahun 1973 menulis bahwa “tidak ada di dalam biologi yang masuk akal, kecuali melalui sudut pandang evolusi” (nothing in biology makes sense, except in the light of evolution).

Akan tetapi, jika pernyataannya adalah demikian, kita mungkin bertanya, apakah bisa seorang biolog di era ilmiah modern saat ini masih berpegang pada kreasionisme? Kenyataannya adalah, iya, saya pikir masih banyak ilmuwan biologi yang juga kreasionisme, atau setidaknya menentang teori evolusi. Bukti yang ada di Turki dengan kampanye yang dilakukan oleh Harun Yahya menunjukkan bahwa beberapa ilmuwan menjadi lebih nyaman untuk tetap berpegang pada kreasionisme terlepas dari kajiannya atas berbagai cabang biologi. Saya rasa, selain cabang keilmuan di biologi yang memang mengarah kuat ke paradigm evolusi, seperti biologi evolusionists, cabang ilmu lain tetap dapat dieksplorasi tanpa pandangan evolusi. Paradigma evolusi tidak membatasi diterapkannya suatu metode baru di dalam biologi, dan oleh karenanya, banyak temuan-temuan baru di dalam rekayasa genetika, fisiologi, botani dan ekologi yang tidak bersentuhan dengan evolusi sama sekali. Mungkin yang perlu digarisbawahi bukanlah bahwa biologi tidak bisa berkembang tanpa evolusi, tetapi bahwa, mengacu kembali pada Thomas Kuhn, telah terbangun konsensus besar di dalam komunitas ilmiah biologi bahwa kontribusi keilmuan biologi secara teoritis hanya akan berarti apabila dikaitkan dengan kerangka paradigma evolusi. Sejauh ini, memang tidak ada paradigma tandingan di bidang ilmu biologi yang mampu memberikan penjelasan lebih dibandingkan dengan paradigma evolusi. Tidak ada, di dalam istilah Harun Yahya, upaya untuk meruntuhkan teori evolusi dari dalam komunitas ilmiah yang ada. Mungkin karena itu juga akhirnya Harun Yahya mencoba pendekatan yang lebih populis di dalam menantang teori evolusi.

Penutup: Evolusi, Biologi dan Moralitas

Bahwa teori evolusi memberikan ekses buruk terhadap cara pandang manusia akan kehidupan perlu dilihat sebagai dampak dari interpretasi teori evolusi, dan bukan kesalahan teori evolusi itu sendiri. Sebagaimana telah disampaikan, bahkan di antara para evolusionist, perdebatan antara spiritualitas dan sekularitas/materialism tidak hentinya digulirkan. Beberapa di antara para ilmuwan itu juga adalah seorang penganut agama yang taat. Terlepas dari penjelasan rinci di dalam Alkitab tentang waktu penciptaan bumi yang notabene bertentangan dengan pandangan teori evolusi, hal-hal lain masih dapat diinterpretasikan berbeda. Sebagai contoh, manusia bukanlah keturunan kera, tetapi berasal dari leluhur yang sama. Toh, lebih jauh lagi, semua mahluk hidup juga berasal dari leluhur yang sama, organisme sel tunggal yang mengapung di lautan purba. Bagaimana kalau, seperti Paley, kita melihat bahwa evolusi inilah yang menjadi Tangan Tuhan dalam menciptakan manusia. Saya secara anekdotal menemukan di satu website cerita tentang bagaimana Nabi Adam bukanlah manusia pertama, tetapi manusia pertama yang berperilaku layaknya manusia ilahiah. Saya tidak ingin menyentuh hal itu, dan bukan posisi saya untuk membahasnya secara mendalam. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa interpretasi bisa saja berbeda.

Hal lain yang seringkali menjadi perdebatan adalah bahwa evolusi membawa pada materialisme, atheism, atau justifikasi atas ketidaksetaraan sosial dan penindasan yang terjadi di dalam sejarah manusia, apa yang dikenal dengan social Darwinism. Mengenai poin pertama dan kedua, saya pikir apa yang dapat dijelaskan oleh sains (dalam hal ini oleh teori evolusi) tidak lebih dari bagaimana mahluk hidup terbentuk, dan bukan mengapa mereka ada. Teori evolusi memang mengimplikasikan bahwa tidak ada tujuan akhir, bahwa apapun terjadi secara kebetulan, sebagai kombinasi antara variasi dan seleksi alam. Tetapi, apa kita tidak bisa berdalih bahwa apa yang kita anggap sebagai fortuna adalah cara Tuhan mendesain alam semesta ini. Sains hanya dapat menangkap hal-hal fisik – ia tidak bisa membuktikan Tuhan itu ada atau tidak ada, dan tujuan penciptaan manusia tetap berada di ranah metafisika. Menanggapi poin ketiga, bahkan nilai moral Darwin sendiri di saat menyaksikan perbudakan justru menggerakkan ia membangun teori evolusi – bahwa setiap orang, dan setiap mahluk hidup, pada dasarnya adalah sama. Ketidaksetaraan adalah konstruksi sosial, dan tidak bisa disalahkan pada dorongan evolusi. Survival of the fittest tidak menggambarkan bahwa yang kuat adalah pemenang, tetapi bahwa perubahan yang terjadi di alam menuntut kita untuk mampu beradaptasi dalam bentuk apapun – baik itu berkompetisi maupun bekerjasama, menjadi kuat atau menjadi oportunis yang bersembunyi dari ancaman. Alam memberikan banyak muka, dari predasi yang kejam hingga simbiosis yang menyenangkan. Kita tidak bisa membuka mata untuk satu hal dan menutup mata dari hal lain. Satu tulisan di Nature (atau jurnal ilmiah lainnya, saya lupa) menunjukkan bahwa di dalam ilmu ekologi, peneliti menemukan bahwa kerjasama/simbiosis ternyata lebih menjadi penentu kelulushidupan ketimbang kompetisi.

Di samping itu, kalaupun manusia adalah binatang yang membunuh untuk hidup, kemampuan manusia untuk merefleksikan dirinya tentu mampu menghindari ia dari hidup dari sebatas dorongan naluriahnya. Manusia bisa membunuh mahluk hidup lain atas dasar kepuasan semata, bukan untuk bertahan hidup, maka seharusnya ia juga sanggup untuk hidup tidak hanya bagi dirinya, tapi bagi orang lain dan mahluk hidup lainnya – bagi alam sekitarnya. Toh, kita sudah bisa membantah, secara empiris, teori populasi Malthusian (dan sekarang kebingungan karenanya). Seharusnya itu yang menjadi pendorong kita untuk bisa melabeli diri kita sebagai Homo sapiens, manusia yang bijaksana. Wallahu a’lam.

—————–

   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *