Tujuh tahun sejak saya terakhir menulis di blog ini. Saya sendiri kaget kalau ternyata akun wordpress ini masih dinyatakan aktif. Tujuh tahun itu waktu yang lama, dan perjalanan saya di dalam tujuh tahun itu sangatlah berarti, setidaknya bagi saya pribadi. Mereka begitu inginnya untuk dibuncahkan, jemari saya seolah kaku, menjadi leher botol yang menahan semua luapan ide dan cerita ini dari ruah keluar di dunia maya.

 

Saya coba mulai dari apa yang tidak berubah. Yang tidak berubah adalah ketertarikan saya yang sangat pada kehidupan, pada masyarakat, pada apa yang dilabeli ‘sosial’ oleh mereka yang merajuk dengan jargon. ‘Sosial’ yang saya dalami kini berputar di sekitar hasrat manusia untuk memenuhi kebutuhan asasinya, kebutuhan akan pangan. Tapi pangan tidak sesederhana ‘konversi energi ke materi’ di dalam jejaring tropik ekosistem. Pangan juga tidak sesederhana gelitik rasa dan selera di lidah manusia. Pangan adalah sebuah konsep jamak makna, dan tiap makna itu bergelayut satu sama lain dan membangun kenyataan sosial yang kita lihat sekarang — akan pertentangan kelas antara pemilik lahan dan buruh tani, akan nasionalisme yang terbakar saat negara adidaya menguasai pintu-pintu sumberdaya kita, akan kepanikan atas hilangnya kepercayaan kita terhadap apa yang kita dahulu akui sehat, aman dan ramah lingkungan, dan akan gairah untuk bersentuhan kembali dengan tanah, air dan helaian daun di saat masyarakat kota telah tercerabut darinya..

Di luar sana, saya mendalami secara filosofis hubungan-hubungan di antara kita yang terbangun atas dasar bagaimana manusia memaknai pangan, alam, dan apapun di sekitarnya. Saya pulang ke tanah air dengan kebingungan, tapi kebingungan yang menggairahkan. Melabeli diri saya sebagai seorang cendekia yang mengkhususkan diri di ranah Sosiologi Pertanian dan Pangan, tulisan-tulisan saya semoga akan mencerminkan kegelisahan saya tentang relasi pangan di negara ini — dan asa yang meruap saat buncahan angan itu terjawab oleh langkah-langkah nyata dari manusia-manusia penuh semangat dengan peluh di ujung cangkulnya, yang bertanam tidak karena ia harus, tapi karena ia ingin berbuat besar bagi sesama.

Saya mengajar di kampus yang baru akan pertanian. Saya menemui puluhan anak muda yang belajar akan dunianya dari sudut pandang yang berbeda — mereka yang dibekali keyakinan bahwa mereka dapat mengubah dunia dengan teknologi hasil karya manusia, tapi tidak dengan nurani di mana teknologi itu (seharusnya) mencuat. Teknologi tidak dapat memecahkan segalanya. Tapi teknologi dapat menjadi perpanjangan tangan nurani, dan menjadi tugas mereka untuk menempatkan teknologi pada tempatnya. Teknologi yang mampu menjawab masalah pertanian hendaknya adalah teknologi yang humanis, yang juga bisa mengkristalkan semangat untuk menjadi harmonis dengan alam, dan bukan teknologi yang menjadi jalan bagi penjajahan manusia atas alam dan sesama.

Maka jangan heran apabila relasi pangan yang saya hembuskan di laman-laman ini kental dengan relasi-relasi modal dan kuasa, sesuatu yang erat dibahas saat para cendekia mulai berbicara tentang tata tani di dunia. Tapi saya juga tidak khususkan diriĀ  sebagai penyuara kelas. Sebagian dari tulisan-tulisan ini akan bicara di ranah metafisika, menjajaki hubungan-hubungan antara manusia dan non-manusia yang dibangun secara simbolis menjadi realita. Saat langkah-langkah nyata ingin diungkap, beberapa tulisan juga akan bicara tentang dunia pasca-struktural, di mana ruang-ruang alternatif dan ke-alternatif-annya menjadi sajian anti-hegemoni kapitalisme, yang tumbuh di celah-celah sempit, namun subur, di antara padang gersang modernisasi dan globalisasi pangan. Saya ingin bercerita tentang jejaring pangan alternatif, sistem pertanian lokal, ekonomi komunitas, dan banyak lagi.

Laman-laman ini, karenanya, didedikasikan sebagai corong dari dunia saya, dunia akademia di mana jargon betebaran menangkap makna dari masyarakat dan pangan. Beberapa penelitian, kajian, dan tulisan ilmiah yang laik bersuara coba saya suarakan di sini dengan bahasa yang berbeda. Saya berharap tumbuh apresiasi di antara para pembaca atas upaya-upaya membangun ruang-ruang alternatif pangan di ranah diskursus dan praxis, bagi kita Indonesia dan masyarakat dunia. Oleh karena itu, tanpa bermaksud latah atau jumawa, sebatas kemampuan saya, saya coba coretkan narasi-narasi ini di dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, mungkin nantinya menjadi jembatan bagi kita dan kawan-kawan di luar sana.

Selamat membaca!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *