The Dawn of Everything: A New History of Humanity karya David Graeber dan David Wengrow mungkin adalah salah satu buku populer non-fiksi paling tebal yang saya pernah temui. Sepertinya ini lebih tebal daripada buku Guns, Germs, and Steel-nya Jared Diamond, meskipun ada kesamaan antara dua buku ini: mereka sama-sama membahas tentang sejarah manusia. Tidak seperti Yuval yang bisa bercerita tentang sejarah peradaban dengan lebih ringkas, baik Graeber-Wengrow maupun Diamond berusaha mendorong argumennya tentang peradaban melalui banyak sekali contoh di berbagai tempat di dunia. Menariknya, dua buku ini membawa ide yang sangat bertolak belakang.
Jared Diamond adalah seorang ahli fisiologi yang punya ketertarikan pada dunia burung. Saking gabutnya, Pak Diamond ini rela merogoh kocek untuk terbang ke Papua Nugini dan mengamati burung! Di sana, katanya, dia bertemu dengan Yali, warga lokal yang mempertanyakan kenapa orang kulit putih (baca: bangsa Barat) punya banyak kekayaan, sementara Yali dan teman-temannya tidak. Tidak seperti bapack2 yang menjawab sekenanya, Diamond merasa bahwa ini pertanyaan yang sangat dalam. Pikir Diamond, bukan kecerdasan dan superioritas ras kulit putih yang menjadikan mereka lebih kaya. Dalam penelusuran sejarahnya, ia belajar bahwa ada faktor yang disebut dengan ‘keberuntungan geografis’ yang memungkinkan masyarakat di Timur Tengah, Mesir, atau Eropa untuk hidup dengan sumber daya terbatas yang, di satu sisi, menuntut mereka mencari solusi inovatif, dan di sisi lain, memperoleh bahan pangan yang baik, sehingga mereka bisa menyimpan hasil panen, membangun spesialisasi keahlian, dan menata peradaban. Di masyarakat Papua Nugini, sumber daya berlimpah yang selalu tersedia setiap saat, tetapi tidak bisa ditumpuk dan diproduksi dalam jumlah banyak, menghilangkan kesempatan untuk menata peradaban tersebut. Diamond berargumen bahwa kalau seandainya nenek moyang Yali tumbuh di Timur Tengah, merekalah yang akan hidup kaya raya sekarang.
Argumen Diamond ini adalah argumen klise yang sangat menyederhanakan masyarakat. Dia pun mengakui, bahwa pandangannya bisa jadi sangat deterministik (setelah A, maka B, lalu C). Sejarah jadi sangat linier. Cara berpikir ini punya risiko paradigmatik yang membahayakan. Karena linearitasnya itu, kita akan berpikir bahwa peradaban masyarakat bergerak ke arah yang senantiasa lebih baik. Modernitas adalah keniscayaan. Kota lebih baik dari desa. Uang lebih baik dari barter. Negara demokrasi lebih baik dari monarki. Mobil lebih baik dari kuda. Industri lebih baik dari pertanian lebih baik dari berburu-meramu. Dan seterusnya. Sekiranya ada yang berpikir untuk kembali ke ekonomi barter, maka reaksi masyarakat adalah, “kita sudah berkembang sejauh ini, kenapa harus mundur lagi?”
David Graeber dan David Wengrow membantah cara berpikir seperti itu. Menurut mereka, pandangan tentang evolusi sosial seperti di atas tidak didasari oleh bukti arkeologi yang kuat, tapi semata atas dasar pandangan filosofis Barat yang sangat dogmatis. David Wengrow adalah seorang arkeolog, sementara Graeber adalah antropolog. Berdua, mereka menulis buku yang panjangnya hingga 700 halaman, meletakkan bukti-bukti pra-sejarah satu demi satu, menghindari klise peradaban besar (seperti Mesir, Cina, Yunani, dsb.), dan mengangkat budaya masyarakat tempo doeloe di Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Hasilnya, mereka menemukan bahwa jalur peradaban tidak selalu harus linier dan satu arah. Berburu-meramu tidak selalu mengarah ke pertanian menetap. Desa tidak selalu tumbuh jadi kota. Bahkan, di tatanan masyarakat yang menyerupai kota di Tiaxcala (sekarang Mexico), demokrasi bisa tumbuh tanpa harus melewati masa-masa feodalisme yang didominasi kelompok elit. Barter di beberapa daerah di Afrika bukan bentuk ekonomi primitif, tapi justru bagian dari ekonomi yang beragam, dikombinasikan dengan penggunaan uang, permainan, judi, dan berbagi hadiah. Proses-proses evolusi sosial ini bisa jadi sangat lambat, dengan milestone yang bercabang, jatuh dan bangun, maju dan mundur, atau menjadi kompleks tanpa kehilangan warna tradisionalnya. Silakan baca bukunya ya, kalau mau tahu lebih rinci cerita-ceritanya.
Yang ingin saya tekankan di sini adalah pesan moral dari duo David ini yang, menurut saya, sangat relevan dengan in this economy: kita bisa loh, membangun tatanan masyarakat yang lebih berkeadilan tanpa kembali ke romantisme tradisional. Kita bisa membongkar pola-pola demokrasi yang kaku, tanpa meninggalkan modernitas kita. Kita bisa membangun sistem pertanian-pangan yang tidak melulu monokultur dan serba penuh teknologi untuk mencapai ketahanan pangan. Kita bisa menata kota yang terintegrasi dengan keanekaragaman hayati, bahkan di metropolitan seperti Bandung. Kita bisa membangun sistem ekonomi yang menekankan pada kebaikan, ketimbang keuntungan semata. Kita bisa punya banyak alternatif atas kapitalisme, lebih luas dari model sosialisme/komunisme saja. Kita bisa hidup bermasyarakat tanpa tatanan yang hierarkis. Kita bisa, apalagi ya…? pokoknya ada! (bayangin ngomongnya gaya Ted*y)
Jadi, perluas cakrawala kita yuk, karena hidup (dan peradaban) ngga selalu linier seperti ini….
#catatan: Melihat argumennya di buku ini, kita harus tahu kalau David Graeber banyak dipengaruhi oleh Murray Bookchin, penulis buku The Ecology of Freedom, yang juga seorang anarkis. Jangan alergi dulu ya. More on that later!